Research Sharing: Sistem Cerdas Terintegrasi untuk Membantu Lansia Hidup Mandiri

Pada post kali ini saya akan berbagi (secara populer) tentang penelitian saya bersama rekan – rekan dosen dan mahasiswa Teknik Elektro dan Internet of Thing UK Petra. Penelitian ini didanai oleh Hibah PTUPT (Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi) – Dikti selama 3 tahun (2021 – 2023).

Latar belakang

Tingkat harapan hidup lansia di Indonesia makin tinggi dari tahun ke tahun. Di masa tuanya, sebagian lansia memilih untuk hidup sendiri di rumahnya, karena merasa tidak nyaman untuk tinggal di panti jompo atau hidup bersama anak – anak di rumah mereka. Namun demikian, saat lansia tinggal sendiri, ada beberapa resiko yang harus dihadapi: keamanan, kesehatan, dan kenyamanan untuk lansia tersebut. Pada penelitian ini, kami mengusulkan integrasi teknologi smart home, wearable device, dan mobile robot, untuk membantu lansia hidup mandiri.

Smart Home

Teknologi smart home yang kami kembangkan masih relatif sederhana. Adapun sensor dan aktuator yang kami gunakan:

  • Sensor suhu, sensor gas, sensor cahaya
  • Beberapa lampu (AC), kipas angin, buzzer

Masing – masing device kami hubungkan dengan sebuah IoT controller (Wemos D1 Mini) sehingga seluruh devices dapat terkoneksi ke internet. Lansia nantinya dapat mengawasi status sensor atau mengendalikan nyala matinya aktuator dari aplikasi mobile atau browser.

Fitur lain dari rumah cerdas kami ialah: deteksi pose otomatis menggunakan deep learning, khususnya algoritma YOLO v4 Tiny yang efisien. Sebelumnya dilakukan pengambilan gambar dengan kamera RGB yang diletakkan di dalam rumah, lalu dilakukan proses training pada laptop, dan model yang dihasilkan diletakkan di NVidia Jetson Nano sebagai edge controller untuk proses inferencing secara live.

Read more

Tidak apa – apa tidak sempurna

Tahun 2022 ialah salah satu tahun tersibuk dalam hidup saya. Waktu berlalu begitu cepat. Sebelum saya sempat melakukan refleksi dan belajar dari suatu peristiwa, saya harus segera beralih ke kegiatan lain. Saya tidak bisa berpikir dengan dalam dan mencerna apa yang sedang terjadi, apa yang Tuhan inginkan untuk saya pelajari.

Mengapa kehidupan saya berputar begitu cepat? Salah satu penyebab yang saya temukan ialah: saya memiliki kecenderungan untuk menuntut diri sendiri sempurna. Saya ingin pada semua bidang yang saya lakukan, saya memberikan yang terbaik. Menggunakan semua waktu, energi, konsentrasi saya untuk hal tersebut. Saya punya kecenderungan perfeksionis.

Saat saya belum berkeluarga, atau saat tanggung jawab pekerjaan saya masih rendah, hal di atas tidak menjadi masalah besar. Namun kecenderungan perfeksionis ini akan sangat membebani saya saat ada sangat banyak tugas yang harus saya kerjakan (tahun lalu saya menjadi kaprodi dan koordinator untuk pelayanan dengan scope yang luas). Akibatnya, saat banyak hal kurang sempurna, saya merasa malu, marah pada diri sendiri, dan menjadi makin kurang bersemangat untuk menyelesaikan tugas. Sehingga pada akhirnya ada tugas – tugas yang terbengkalai atau terselesaikan dengan kualitas buruk.

Read more

Be a Courageous Leader

Dalam perjalanan pendek saya untuk belajar memimpin orang lain, saya menemukan berani/courageous* sebagai salah satu karakter penting seorang pemimpin. Mengapa? Mari kita diskusikan bersama – sama.

Berani bermimpi, berani mengeksekusi

Seorang pemimpin perlu memiliki mimpi, atau visi, atau apapun yang lebih besar dari yang dapat dipikirkan secara rasional. Tanpa mimpi yang besar, maka perjalanan mencapai tujuan akan terasa rutin dan membosankan. Tidak ada sesuatu yang menggugah semua orang untuk diperjuangkan bersama.

Meski bermimpi besar penting, jauh lebih penting untuk dapat mengeksekusi mimpi tersebut. John Doerr, seorang venture capital Sillicon Valley pernah mengatakan, “ideas are easy, execution is everything”. Mengeksekusi ide atau mimpi akan mendorong pemimpin untuk memperhitungkan semua resources yang dimilikinya, merencanakan langkah – langkah konkret, menghitung resiko dan untung – rugi langkah – langkah tersebut, dan mulai bekerja untuk mewujudkan mimpi. Bandingkan betapa jauhnya perbedaan antara mimpi dan eksekusi!

“Ideas are easy, execution is everything”.

John Doerr, venture capital

Berani menghadapi, dan berada dalam, ketidakpastian

Tugas terberat seorang pemimpin ialah menghadapi masa depan yang tidak pasti. Hal – hal yang diputuskan, dan dilakukan, saat ini akan berpengaruh pada masa depan organisasi atau tim yang dipimpinnya. Berada dalam ketidakpastian tidak mudah, jauh lebih mudah untuk ada dalam situasi stabil dan pasti. Namun demikian, kondisi status quo sering kali menjadi penghalang untuk perubahan, dan dalam jangka panjang dapat menjadi sumber kegagalan suatu organisasi atau bisnis.

Read more

Kampus Merdeka: wajah PT Indonesia di masa mendatang

Minggu lalu saya mendapat kesempatan yang baik untuk mewakili kampus UK Petra untuk mengikuti seleksi dan pelatihan reviewer Program Kompetisi Kampus Merdeka. Posting ini merupakan interpretasi pribadi saya dari beberapa bahan yang disampaikan narasumber terkait kampus merdeka, yang akan mengubah wajah perguruan tinggi Indonesia di masa mendatang.

Untuk mentransformasi wajah Perguruan Tinggi, terdapat 8 Indikator Kinerja Utama (IKU) yang dinilai dalam sebuah perguruan tinggi, 8 IKU tersebut dirangkum dalam 3 hal: kualitas lulusan, kualitas dosen dan pengajar, dan kualitas kurikulum. Mari kita bahas satu per satu.

Screenshot dari paparan Mendikbud di YouTube channel Kemdikbud [1]

Kualitas lulusan

Hal ini meliputi:

  1. Lulusan mendapat pekerjaan layak (pekerjaan dengan upah di atas UMR, menjadi wirausahawan, atau melanjutkan studi)
  2. Mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus (8 kegiatan kampus merdeka)

Dari bagian pertama, PT perlu memikirkan bagaimana supaya lulusannya mendapat pekerjaan yang layak. Hal ini akan memacu PT untuk memberikan materi – materi yang lebih applicable dan tepat guna di dunia pekerjaan. Bukan rahasia umum lagi jika industri selalu mengeluhkan lulusan PT yang “tidak siap pakai”. Selain itu, PT bisa mengarahkan mahasiswa untuk mendapatkan sertifikasi profesi, sehingga saat lulus mahasiswa sudah memiliki bekal untuk bekerja.

Read more

6 Years (Not) a Slave

Pernahkah Anda menonton film “12 Years a Slave”? Film terbaik Oscar 2014 ini mengisahkan Solomon Northup, seorang berkulit hitam merdeka yang diculik dan dijual sebagai budak selama 12 tahun. Film ini bukanlah film yang menyenangkan untuk dilihat, banyak siksaan dan ketidakadilan yang diterima Northup dan teman – temannya, namun memberi pelajaran mendalam tentang berharganya kemerdekaan bagi setiap orang.

Saat saya melihat ke belakang terkait proses Ph.D. saya, mau tidak mau saya melihat kilasan yang mirip dengan film ini. Mungkin tidak seperti kebanyakan kisah mahasiswa Ph.D. lain yang berhasil dengan gemilang, sekitar 6 tahun saya menjalani proses Ph.D. saya dengan kesulitan yang mewarnai hampir setiap tahapannya. Kadang saya merasa seperti Northup yang bertahun – tahun hidup dalam situasi “diperbudak”.

Why it feels like a slavery

Sebelum Anda menyebut saya lebay dan kurang bersyukur, berikut penjelasan saya.

Banyak kesulitan

Dalam posting – posting sebelumnya saya menceritakan beberapa kesulitan yang saya hadapi dalam studi:

  • Saya terlambat berangkat studi 1 semester dibanding rekan – rekan saya yang melamar beasiswa pada periode yang sama. Total saya menghabiskan sekitar 16 bulan untuk keseluruhan proses mendapatkan beasiswa.
  • Di tahun pertama, saya gagal di ujian konfirmasi (sidang proposal). 3 bulan kemudian saya harus menjalani ujian ulang, dan baru bisa dinyatakan lulus.
  • Saya harus dengan konstan melawan rasa minder, menyesuaikan diri dengan natur mahasiswa Ph.D., dan beradaptasi dengan profesor. Selain itu, saya menghadapi masalah besar dengan kesehatan anak saya.
  • Setelah 4 tahun, saya harus pulang ke Indonesia tanpa gelar. Hal yang paling sulit ialah menemukan motivasi untuk menyelesaikan studi PhD. Setelah hampir menyerah karena kembali gagal submit, bersyukur akhirnya saya bisa submit di akhir semester 10.

Read more

Pulang malu tak pulang rindu

Dalam posting ini saya ingin membagikan pengalaman kembali ke Indonesia dalam kondisi masih belum menyelesaikan studi PhD, serta bagaimana saya berjuang untuk menyelesaikannya dengan kondisi tidak ideal.

Pulang malu tak pulang rindu

Kalimat di atas benar – benar mewakili perasan saya saat saya harus pulang ke Indonesia tanpa gelar PhD tanggal 1 April 2018. Beberapa minggu sebelumya, profesor memastikan bahwa hasil penelitian saya masih belum memuaskan. Saya sedih, karena merasa sudah bekerja keras namun hasilnya masih jauh dari harapan. Sebenarnya kami rindu Indonesia, namun pulang dengan kondisi belum selesai studi tidaklah mudah. Saya malu dan merasa gagal.

Saat sharing tentang kegagalan ini ke kakak saya, dia berkata dengan santai, “gak apa apa, supaya kamu merasakan kegagalan dalam hidupmu dan belajar dari pengalaman itu”. Saya terdiam. Selama ini orang lain hampir selalu memiliki persepsi bahwa saya pandai, dan “citra pandai” tersebut kini hancur. Mulai saat ini, saya dikategorikan UNSW sebagai mahasiswa yang tidak dapat selesai tepat waktu. It is a humbling experience for me.

Pembimbing dari rekan saya sesama mahasiswa PhD pernah mengatakan hal berikut

Do not let PhD degree defines who you are. It is just one chapter of your life. It is not everything.

Saya mengaminkan hal tersebut. Mendapatkan gelar PhD atau tidak, saya adalah pribadi yang diletakkan Tuhan di dunia dengan suatu maksud yang baik. Hidup saya masih bisa bermanfaat untuk orang lain di sekitar saya, apapun prestasi akademis saya. Dengan pandangan baru ini, saya dan keluargapun pulang ke Indonesia.

Read more

Why should I finish my PhD?

Saat ini saya ada di penghujung tahun ke 5 studi Ph.D. saya.  Empat tahun saya habiskan di Australia dan 1 tahun terakhir saya menulis (dan melakukan simulasi) dari Indonesia. Setahun terakhir, di tengah kelelahan secara fisik dan emosi, pertanyaan berikut sering muncul: “Apakah saya harus berhenti atau melanjutkan PhD saya?”. Tulisan ini ialah rekaman beberapa pergumulan batin saya dan self encouragement bagi saya untuk menyelesaikan PhD saya.

Should I quit my PhD?

Saya yakin hampir setiap mahasiswa PhD pernah menanyakan hal ini dalam masa studi mereka. Karena mahasiswa PhD umumnya memiliki prestasi yang baik di fase studi sebelumnya, tidak mudah menerima kenyataan bahwa mereka ternyata “tidak terlalu pintar” dan mengalami kesulitan saat menempuh PhD. Saya mengalaminya. Berikut beberapa kesulitan yang saya alami.

My difficulties

Studi PhD tidaklah mudah. Di Australia, penelitian yang kita kerjakan haruslah memberikan kontribusi baru pada ilmu pengetahuan di seluruh dunia. Bukan hanya di Australia, tapi di dunia. Bagaimana menghasilkan kontribusi baru itu? Tidak ada yang tahu persis caranya. Profesor akan memberi arahan, tapi pada akhirnya mahasiswa sendirilah yang harus menemukannya sebagai peneliti yang mandiri. Hal ini cukup sulit, apalagi bagi mahasiswa Asia yang umumnya hanya mengerjakan apa yang diminta oleh pembimbingnya. Kecenderungan perfectionism dapat membuatnya makin sulit.

Read more

A burning furnace in our life

Awal September 2016 lalu, keluarga kami melewati fase berat saat Joshe, anak kami, harus dirawat di Sydney Children Hospital selama hampir satu bulan. Seperti emas yang harus dimurnikan melalui perapian yang sangat panas, kami harus melewati fase yang sama untuk menjadi makin dewasa.

gold-smelting-molten-1024x768

Shocking moment

Hari itu, 7 September 2016, semua berjalan seperti biasa. Joshe tampak sehat, dia pergi ke kelas musik kemudian bermain sepeda di playground. Malamnya, sekitar pukul 01.30 dini hari, istri saya terbangun dan menyadari bahwa Joshe kesulitan bernafas. Dia hampir tidak merespons saat dibangunkan, dan bibirnya membiru. Dengan agak histeris dan ketakutan, kami lari ke rumah sakit anak terdekat (jaraknya hanya sekitar 200 meter dari rumah kami). Saya membopong Joshe sambil berusaha membangunkan dia, tapi hampir tidak ada respons.

It is a nightmare. It is the worst night of our whole lives.

Sesampai di rumah sakit, para dokter dan perawat dengan luar biasa sigap menolong Joshe. Dia sempat membaik dan stabil, namun beberapa saat kemudian dia kembali kejang dan sulit bernafas. Akhirnya dokter memberi obat penenang untuk mencegah hal tersebut, dan memasang ventilator supaya Joshe bisa bernafas normal.

Dan di sanalah kami, hampir 5000 km jauhnya dari tempat asal kami (Surabaya), dari keluarga besar dan teman – teman dekat, dan kami hanya bisa menangis dan berdoa.

Read more

How does a Ph.D. student learn?

Tanpa terasa, tahun ini ialah tahun ke 3 saya menempuh studi Ph.D. di UNSW, Australia. Saya ingin berbagi hal – hal unik tentang natur studi Ph.D. yang tidak pernah saya pikirkan sebelum menjalaninya.

phd-learn

Break out of the undergraduate mentality

Nasehat yang baik ini dikemukakan Jason Hong (CMU) [1]. Jika mahasiswa undergraduate hanya perlu mempelajari materi yang telah disampaikan dosen di kelas, maka mahasiswa Ph.D. harus mempelajari materi yang jauh lebih luas, bahkan yang tidak pernah disentuh pembimbingnya. Jika mahasiswa undergraduate  mendapat tugas mingguan dan mengikuti ujian di akhir semester, maka mahasiswa Ph.D. hanya akan melakukan defense dan atau submit the thesis setelah 3 – 4 tahun masa studinya.

Intinya, mahasiswa undergraduate dibimbing dengan detail oleh dosen untuk memahami materi dalam jangka pendek, sedang mahasiswa Ph.D. hanya mendapat arahan umum dan harus melakukan riset jangka panjang yang menghasilkan kontribusi original pada ilmu pengetahuan.

Perbedaan ini kadang membuat mahasiswa Ph.D. merasa “diabaikan” pembimbingnya, “tersesat” di hutan belantara bidang ilmu tertentu, dan tidak tahu kemana arah penelitian yang dilakukan. Untuk itu mahasiswa Ph.D. perlu beradaptasi dan keluar dari mentalitas mahasiswa undergraduate.

Read more

Mengapa studi Ph.D.?

Kadang orang bertanya pada saya, “Mengapa kamu kuliah tinggi – tinggi? Kenapa harus melanjutkan studi sampai Ph.D.?”

phdJawaban yang naif mungkin : supaya mendapat gaji yang lebih besar, lebih keren (atau percaya diri), karena ada embel – embel doktor di nama kita, karena “dianjurkan” orang tua, atau sederet alasan lainnya.

Untuk saya jawabannya cukup mudah, karena saya adalah dosen maka adalah wajib hukumnya untuk melanjutkan studi sampai S3 sebagai bentuk tanggung jawab terhadap profesi yang diberikan Tuhan ini.

Namun jika alasan saya hanyalah “formalitas” karena saya adalah seorang dosen, hal tersebut kurang kuat untuk mendorong saya melewati masa yang berat (namun memuaskan) selama studi Ph.D. Saya mencoba menggali lebih dalam dan menemukan beberapa jawaban berikut.

Berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan

Di awal masa studi, profesor saya beberapa kali mengatakan bahwa penelitian saya haruslah memberi kontribusi pada ilmu pengetahuan bukan hanya di Australia, tapi di dunia! Hal ini berarti saya harus banyak membaca hasil penelitian para peneliti lain untuk menemuan state of the art di bidang yang saya tekuni.

Matt Might (profesor computer science di University of Utah) memberikan gambaran tentang studi Ph.D. dengan sangat baik. Berikut ini salah satu diagramnya.

PhDKnowledge.010source : http://matt.might.net/articles/phd-school-in-pictures/

Read more