Tidak apa – apa tidak sempurna

Tahun 2022 ialah salah satu tahun tersibuk dalam hidup saya. Waktu berlalu begitu cepat. Sebelum saya sempat melakukan refleksi dan belajar dari suatu peristiwa, saya harus segera beralih ke kegiatan lain. Saya tidak bisa berpikir dengan dalam dan mencerna apa yang sedang terjadi, apa yang Tuhan inginkan untuk saya pelajari.

Mengapa kehidupan saya berputar begitu cepat? Salah satu penyebab yang saya temukan ialah: saya memiliki kecenderungan untuk menuntut diri sendiri sempurna. Saya ingin pada semua bidang yang saya lakukan, saya memberikan yang terbaik. Menggunakan semua waktu, energi, konsentrasi saya untuk hal tersebut. Saya punya kecenderungan perfeksionis.

Saat saya belum berkeluarga, atau saat tanggung jawab pekerjaan saya masih rendah, hal di atas tidak menjadi masalah besar. Namun kecenderungan perfeksionis ini akan sangat membebani saya saat ada sangat banyak tugas yang harus saya kerjakan (tahun lalu saya menjadi kaprodi dan koordinator untuk pelayanan dengan scope yang luas). Akibatnya, saat banyak hal kurang sempurna, saya merasa malu, marah pada diri sendiri, dan menjadi makin kurang bersemangat untuk menyelesaikan tugas. Sehingga pada akhirnya ada tugas – tugas yang terbengkalai atau terselesaikan dengan kualitas buruk.

Kecenderungan perfeksionis (bercampur dengan rasa malu) ini juga membuat saya sulit mempercayai dan meminta bantuan orang lain (apalagi jika waktunya singkat). Hal ini tentunya buruk bagi seorang pemimpin yang seharusnya mendelegasikan tugas sebanyak mungkin supaya lebih banyak target organisasi yang tercapai.

Ada ungkapan yang menyatakan bahwa “done is better than perfect”. Saya perlu banyak belajar untuk menerima ketidaksempurnaan. Bahwa ketercapaian 70% atau 80% untuk sebagian besar tugas sudah cukup baik. Saya juga perlu belajar mendelegasikan tugas – tugas ke makin banyak orang, dan mempercayai mereka, meski hasilnya mungkin tidak selalu sama dengan yang saya harapkan.

Akar dari keinginan menjadi sempurna, menurut saya, ialah kesombongan. Saya punya pandangan bahwa saya bisa melakukan yang terbaik, tanpa bantuan orang lain, bahkan tanpa bantuan Tuhan. Saya harus belajar bahwa Tuhanlah yang memampukan saya mengerjakan segala sesuatu. Kutipan ayat Alkitab berikut mengingatkan saya akan kesia – siaan usaha manusia.

Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya kuasa;
seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan.
Kuda adalah harapan sia-sia untuk mencapai kemenangan,
yang sekalipun besar ketangkasannya tidak dapat memberi keluputan.

Selain berdamai dengan ketidaksempurnaan, saya perlu punya hikmat untuk memilih, hal – hal apa yang sebenarnya paling penting dan perlu saya berikan 100% energi saya? Ada hal – hal yang boleh tidak sempurna, namun ada hal – hal yang harus saya usahakan sebaik mungkin.

Secara singkat saya melihat bahwa hal – hal berikut adalah terpenting untuk saya dalam jangka panjang:

  • Hubungan pribadi dengan Tuhan, melayani Dia
  • Kondisi keluarga inti (istri dan anak) saya
  • Kesehatan fisik-mental saya

Tiga hal di atas (menurut saya) layak untuk diperjuangkan 100%.

Demikian catatan pelajaran saya. Semoga bermanfaat!

NB. Ada buku dari Brene Brown, seorang professor bidang behavioural health, yang berjudul “Gifts of Imperfection (Tak Apa – Apa Tak Sempurna)”, referensi yang baik tentang menerima ketidaksempurnaan

2 thoughts on “Tidak apa – apa tidak sempurna”

  1. Mantul pak Handy..Sharingnya..ternyata type yg sama dg saya..he..he…
    Tapi puji Tuhan sudah sadar dan berjuang rela diubahkan..
    Kalau ada waktu main ke Trenggalek GBI Terang Dunia

    Reply

Leave a Comment