Awal September 2016 lalu, keluarga kami melewati fase berat saat Joshe, anak kami, harus dirawat di Sydney Children Hospital selama hampir satu bulan. Seperti emas yang harus dimurnikan melalui perapian yang sangat panas, kami harus melewati fase yang sama untuk menjadi makin dewasa.
Shocking moment
Hari itu, 7 September 2016, semua berjalan seperti biasa. Joshe tampak sehat, dia pergi ke kelas musik kemudian bermain sepeda di playground. Malamnya, sekitar pukul 01.30 dini hari, istri saya terbangun dan menyadari bahwa Joshe kesulitan bernafas. Dia hampir tidak merespons saat dibangunkan, dan bibirnya membiru. Dengan agak histeris dan ketakutan, kami lari ke rumah sakit anak terdekat (jaraknya hanya sekitar 200 meter dari rumah kami). Saya membopong Joshe sambil berusaha membangunkan dia, tapi hampir tidak ada respons.
It is a nightmare. It is the worst night of our whole lives.
Sesampai di rumah sakit, para dokter dan perawat dengan luar biasa sigap menolong Joshe. Dia sempat membaik dan stabil, namun beberapa saat kemudian dia kembali kejang dan sulit bernafas. Akhirnya dokter memberi obat penenang untuk mencegah hal tersebut, dan memasang ventilator supaya Joshe bisa bernafas normal.
Dan di sanalah kami, hampir 5000 km jauhnya dari tempat asal kami (Surabaya), dari keluarga besar dan teman – teman dekat, dan kami hanya bisa menangis dan berdoa.

