Dalam perjalanan pendek saya untuk belajar memimpin orang lain, saya menemukan berani/courageous* sebagai salah satu karakter penting seorang pemimpin. Mengapa? Mari kita diskusikan bersama – sama.

Berani bermimpi, berani mengeksekusi
Seorang pemimpin perlu memiliki mimpi, atau visi, atau apapun yang lebih besar dari yang dapat dipikirkan secara rasional. Tanpa mimpi yang besar, maka perjalanan mencapai tujuan akan terasa rutin dan membosankan. Tidak ada sesuatu yang menggugah semua orang untuk diperjuangkan bersama.
Meski bermimpi besar penting, jauh lebih penting untuk dapat mengeksekusi mimpi tersebut. John Doerr, seorang venture capital Sillicon Valley pernah mengatakan, “ideas are easy, execution is everything”. Mengeksekusi ide atau mimpi akan mendorong pemimpin untuk memperhitungkan semua resources yang dimilikinya, merencanakan langkah – langkah konkret, menghitung resiko dan untung – rugi langkah – langkah tersebut, dan mulai bekerja untuk mewujudkan mimpi. Bandingkan betapa jauhnya perbedaan antara mimpi dan eksekusi!
“Ideas are easy, execution is everything”.
John Doerr, venture capital
Berani menghadapi, dan berada dalam, ketidakpastian
Tugas terberat seorang pemimpin ialah menghadapi masa depan yang tidak pasti. Hal – hal yang diputuskan, dan dilakukan, saat ini akan berpengaruh pada masa depan organisasi atau tim yang dipimpinnya. Berada dalam ketidakpastian tidak mudah, jauh lebih mudah untuk ada dalam situasi stabil dan pasti. Namun demikian, kondisi status quo sering kali menjadi penghalang untuk perubahan, dan dalam jangka panjang dapat menjadi sumber kegagalan suatu organisasi atau bisnis.
Tentunya Anda masih ingat kasus produsen mobile phone Nokia yang merajai pasar di tahun 1990an, namun akhirnya gagal dan harus merelakan diri diakusisi Microsoft dengan nilai yang relatif rendah. Stephen Elop, CEO Nokia, menyatakan di akhir pidatonya saat akuisisi, “we didn’t do anything wrong, but somehow we lost”. Tidak melakukan apa – apa, tidak berubah, dapat menjadi resep kegagalan seorang pemimpin dan organisasi yang dipimpinnya.
“we didn’t do anything wrong, but somehow we lost”
Stephen Elop, mantan CEO Nokia
Berani mengkonfrontasi orang lain
Keberanian untuk mengkonfrontasi orang lain ialah hal yang tidak mudah untuk saya pribadi. Mungkin juga untuk kebanyakan orang Asia yang mengedepankan sopan santun dibanding keterusterangan. Situasi makin sulit jika yang dikonfrontasi adalah atasan atau orang yang lebih senior. Namun demikian, keberanian untuk mengkonfrontasi saat ada hal yang salah ialah karakter (dan ketrampilan) yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin. Hal ini akan menolong organisasi untuk tetap fokus dan tidak melenceng dari tujuan awalnya.
Di sisi lain, ada juga orang yang “terlalu mudah” mengkonfrontasi orang lain, sehingga kesalahan – kesalahan kecil dapat berakibat pada kemarahan besar dari sang pemimpin. Kemarahan yang ditujukan kepada pribadi (bukan performa) orang yang dipimpin akan mengurangi semangat dan kepercayaan dirinya. Pemimpin perlu belajar untuk menyampaikan ketidaksetujuan dan koreksinya dengan terbuka dan membangun.
Berani melangkah maju seorang diri
Seorang pemimpin hampir pasti akan kesepian. Mungkin visi yang dimilikinya belum dapat dipahami orang – orang yang dipimpinnya, sehingga ia harus melangkah sendiri untuk mewujudkan visinya (dalam istilah Jawa disebut “babat alas”, meratakan hutan liar yang belum terjamah orang).
Apapun alasannya, pemimpin tidak seharusnya berhenti dan kehilangan keberanian. Jika seorang pemimpin menjadi takut dan tidak yakin, bagaimana dengan orang – orang yang akan dia pimpin? Dalam Alkitab, dikisahkan Yosua akan menggantikan Musa untuk memimpin bangsa Israel. Dalam Yosua 1, Tuhan mengulang – ulang kata – kata berikut, “kuatkan dan teguhkanlah hatimu” sampai 4 kali. Tugas memimpin tidaklah mudah, perlu hati yang kuat dan teguh. Perlu keberanian, stamina untuk melangkah, meski kadang seorang diri.
Sudahkah kita menjadi courageous leaders?
* Saya banyak belajar dari buku rohani Kristen: “Growing Kingdom Character – Practical, Intentional Tools for Developing Leaders” oleh Tom Yeakley