Bagi sebagian besar orang, mungkin beasiswa Dikti terkesan “mudah” didapatkan (jika anda adalah dosen tetap di PT tertentu). Mungkin hal tersebut ada benarnya. Namun tidak selalu demikian. Saya akan menuliskan “perjalanan panjang” saya untuk mendapatkan beasiswa Dikti. Saya tahu ada rekan – rekan lain yang mungkin menempuh jalan yang lebih panjang (dan berat) lagi. Untuk semua yang sedang berjuang, tetap berdoa, terus berjuang dan jangan menyerah!
Mencari dan “melamar” Profesor (awal Agustus 2012)
Langkah pertama yang harus dilakukan ialah menemukan profesor yang memiliki minat penelitian sama dengan kita, bereputasi internasional, dan (jika mungkin) adalah salah satu idola kita di dunia akademik. Sebenarnya saya sangat nge-fans dengan seorang profesor dari Tohoku University yang meneliti di bidang rescue robotics. Saya sudah bertemu 2 kali (secara fisik) dengan beliau, dan mendapatkan respons yang baik saat melakukan follow up via email. Namun ternyata untuk mendaftar ke universitas tersebut, kita harus hadir secara fisik dan mengikuti tes tulis di sana. Hal ini tentu sangat memberatkan secara finansial. Akhirnya dengan berat hati saya putuskan untuk mencari profesor yang lain.



